Langsung ke konten utama

Postingan

Berpihak pada Harapan

sinarharapan.co O leh Ki Ageng Linglung Kaummudapergerakan . Kali pertama bertemu lelaki kurus-dekil dengan sinar mata sayu itu, saya seperti katak dalam tempurung. Saya menganggap lelaki kurus-dekil itu tak ubahnya sosok yang hanya dipenuhi debu dendam. Ya, lelaki –yang kemudian hari saya kenal sebagai Pak Pardi, aktivisi veteran tahun ‘65-an. Dari cerita-cerita singkatnya, awalnya saya menganggap Pak Pardi sebatas melampiaskan kesumatnya pada Pak Harto yang memerlakukannya tidak adil. Saya pun yakin, Pak Pardi dan teman-temannya bergabung ke Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Surabaya tak ubahnya “penumpang-gelap” gerbong perubahan anak-anak muda pendukung revolusi mental Jokowi. Hingga beberapa minggu, mata saya tetap terkungkung oleh dinding ego untuk memerhatikan lelaku dan getar suara Pak Pardi dan teman-temannya. Baru di pertemuan ketiga Seknas Jokowi Surabaya, suara Pak Pardi seperti gelombang yang berdebur, mengguncang batu karang. Sore itu, Sabtu, 14 Juni...

Pawai Hari Kemerdekaan Ke-69 Republik Indonesia

Ayu Nurbadariya Ningsih, salah seorang peserta pawai O leh Mega Agustini Kaummudapergerakan-Karanganyar . Minggu, 31 A gustus 2014 , D esa K arang A nyar dan P ing g ir P apas mengadakan pawai dalam rangka H ari K emerdekaan I ndonesia ke - 69. Masyarakat begitu antusias dengan pawai i tu. H ampir semua pinggir jalan dipenuhi oleh banyak orang untuk menonton pawai tersebut. Tak terlupa keluarga kecil B apak Bambang dan I bu Ismawati. Anaknya , Ayu N urbadariya N ingsih - yang  juga keponakanku -   ikut serta dalam pawai itu. Adik kecil mungil dengan pipi ‘ cabi ’ ini menjadi “mantan dodot” ( begitu masyarakat D esa K arang A nyar  menyebutnya). Pada awalnya ada dua kendala yang terjadi. Pertama , S i P ipi C abi ini tidak mau menggunakan hiasan-hiasan di kepalanya karena hiasannya terlalu berat . K edua , dia tidak mau menunggangi kudanya karena terlalu tinggi. Kami begitu bingung dengan itu . H ingga kami membujuknya dengan banyak rayuan dan ...

Baju Kusut

www.etnokartunologi.com O leh Nur Hikmah* Kaummudapergerakan . Syahdan, di suatu desa kecil hiduplah suatu keluarga kecil yang terdiri dari Ibu, Kakak, dan Adik. Mereka hidup dengan ekonomi yang sangat kurang untuk kehidupan sehari-hari . H idup dengan ekonomi yang sangat kurang, tapi mereka segalanya buat Ibunya . M ereka mempunyai Ibu yang sangat sayang padanya . D an Ibunya selalu menanamkan pendidikan dari kecil sampai hari ini. Mereka bersekolah di sekolah  yang cukup jauh dari tempat tinggalnya . M eski dia bersekolah, mereka berdua harus bergantian bajunya dengan saudaranya setiap hari . S ehingga membuat mereka sering terlambat sekolah, karena bergantian baju dengan saudaranya. Dan bila dia terlambat sekolah dia selalu mengulurkan tangannya untuk bapak guru pengajarnya sebagai bentuk hukuman karena terlambat, dan tangan tersebut selalu dipukul ketika harus terlambat. Meskipun setiap harinya terlambat dia tetap semangat untuk bersekolah,  karena dia ingat...

Bhâbhâd Songennep Bâgiân V

Kaummudapergerakan _ Kacarèta’a Rato Brawijaya, Soltan Majapaèt, makon aghâbây labâng gâliḍighân bessè. Sabannya’na panḍhi satana Jâbâ bân Madurâ paḍâ èdhikanè kabbhi ka Majapaèt. Ḍâri sabâb jârèya Empo Kelleng talèbât sossana, marghâ bâkal tepèsa bi’ ana’ binèna, pèkkèrra bâriyâ: “Labâng bessè sè èkaghâbâyâ jârèya ta’ kèra marè saton ḍutaon. Bân polè lamon ta’ dhaddi, ta’ burung sèngko’ sabâreng èpatè’è.” Empo Kelleng ngoca’ ka Nyaè Empo bâriyâ: “Bulâ matoro’a Jakatole, sopajâ dhika mèyara’a bi’ benḍer, sarta dhika jâ’ paroco, ma’ ta’ èkabângalè na’-kana’, sabâb bulâ sanonto edhikanè ka Majapaèt, Soltan makon aghâbây labâng gâliḍighân bessè. Dhinèng lalakon nèko ta’ kèra marè sataon otabâ dutaon. Sarta polè saompama ta’ dhaddi, ta’ burung bulâ sabâreng èokom patè.” Nyè Empo: “Èngghi, mandhâr ollè dhuwana dhika, tolosan ana’na (Tole) toro’a oca’. Sarta dhika mandhâr  dhuliyâ molè, ta’ kongsèya on-taonan e naghârâ Majapaèt.” Ngala’ panḍâ’na carèta Empo Kelleng sabâre...

Kisah Tragis Seorang Gadis

klikunic1.blogspot.com o leh Nur Hikmah Kaummudapergerakan. Kisah ini tentang seorang gadis yang berumur 15 tahun . Ila, begitu ia dipanggil. G adis ini mempunyai satu sahabat , Ita, dan gadis ini mempunyai pacar , Faisol, pacar yang sangat keras padanya. Di usia yang masih abg (anak baru gede) , dia sudah mengenal cinta . D an diumur yang sangat muda ini , dia sedang dihadap kan pada penyakit le u kimia . D ia sudah melakukan beberapa kali kemo terapi tapi hasilnya tetap saja begitu. Dia pernah menyerah , meski semuanya telah terjadi padanya . K arena dia mempunyai sahabat yang selalu setia menemaninya . S ahabat yang tidak pernah menyerah untuk menyemangatinya setiap waktu . S etiap saat mereka selalu bersama. Dan pacar yang selalu dia damba-dambakan dan impikan mala h me mper lakukan nya seperti tiada artinya . D ia selalu memperoleh perkataan yang sangat tidak menyenangkan untuk didengarkan . D ia selalu diperlakukan keras oleh pacarnya, masih dia tetap bertahan ...

Dusunku, Palebunan

O leh Mega Agustini Kaummudapergerakan-Karang Anyar . Desa Karang Anyar terkenal dengan desa penghasil garam. Hampir setiap tahunnya desa ini menghasilkan garam. Bicara tentang desa Karang Anyar, menurut ayah saya, dahulu desa ini adalah saghara (masyarakat desaku begitu menyebutnya), yang secara bahasa Indonesia adalah lautan. Menurut Bapak Saed (52) dahulu desa kami bukan di sini, melainkan di seberang desa dari tempat yang kami tempati sekarang. Dan sekarang tempat itu menjadi tempat pembuatan garam. Hingga suatu hari desa ini dipindahkan kelautan tersebut oleh pemerintah, dan sekarang sudah menjadi sebuah Desa Karang Anyar. Bapak yang memiliki 2 putri ini berkata bahwa itulah asal usul desa kami. Dinamakan desa Karang Anyar karena desa ini anyar (baru). Desa Karang Anyar memiliki banyak dusun. Salah satunya Dusun Palebunan RT 07 RW 01. Kata seorang nenek parubaya yang tinggal dengan anak dan cucunya, asal usul nama Palebunan itu dari sebuah tempat yang ditempati...

Tarètan Ngoḍâ Jokowi

O leh Ki Ageng Linglung Kaummudapergerakan-Sumenep . Mulanya relawan ini hanya kumpulan anak-anak muda yang saya temui di gardu tepi jalan Desa Karang Anyar. Mulanya mereka hanya berempat: Mohamad Anwar, Jufri, Peco dan Musdar. Dari mereka relawan ini berkembang, bertambah: Mega, Hikmah, Deny, Devi, Mely, Durahman, dan lainnya. Mereka biasa saya temui setelah shalat ashar atau sehabis shalat isya’. Mereka adalah bagian generasi terdidik dari Desa Karang Anyar yang mulai paham dan cemas tentang kemajuan. “Ayo Genk, kau pilih Jokowi atau Prabowo?” Jufri melontarkan pertanyaan dengan tertawa. Waktu itu, senja hampir mengganti siang dengan malam. Saya pun tak banyak pilihan kata untuk menjelaskan pilihan saya. “Anak-anak muda selalu punya mimpi untuk masa depan yang lebih baik. Bukan bernostalgia dengan masa lalu,” saya melontarkan kata-kata itu dengan nada gurau. Sore itu mereka hanya nyengir mengunyah kata-kata itu. Saya pun paham. Pertanyaan mereka bukan kalimat ‘seriu...