sinarharapan.co O leh Ki Ageng Linglung Kaummudapergerakan . Kali pertama bertemu lelaki kurus-dekil dengan sinar mata sayu itu, saya seperti katak dalam tempurung. Saya menganggap lelaki kurus-dekil itu tak ubahnya sosok yang hanya dipenuhi debu dendam. Ya, lelaki –yang kemudian hari saya kenal sebagai Pak Pardi, aktivisi veteran tahun ‘65-an. Dari cerita-cerita singkatnya, awalnya saya menganggap Pak Pardi sebatas melampiaskan kesumatnya pada Pak Harto yang memerlakukannya tidak adil. Saya pun yakin, Pak Pardi dan teman-temannya bergabung ke Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Surabaya tak ubahnya “penumpang-gelap” gerbong perubahan anak-anak muda pendukung revolusi mental Jokowi. Hingga beberapa minggu, mata saya tetap terkungkung oleh dinding ego untuk memerhatikan lelaku dan getar suara Pak Pardi dan teman-temannya. Baru di pertemuan ketiga Seknas Jokowi Surabaya, suara Pak Pardi seperti gelombang yang berdebur, mengguncang batu karang. Sore itu, Sabtu, 14 Juni...
Merangkai yang Terserak, Membaca yang Sublim