Langsung ke konten utama

Kisah Tragis Seorang Gadis

klikunic1.blogspot.com
oleh Nur Hikmah

Kaummudapergerakan. Kisah ini tentang seorang gadis yang berumur 15 tahun. Ila, begitu ia dipanggil. Gadis ini mempunyai satu sahabat, Ita, dan gadis ini mempunyai pacar, Faisol, pacar yang sangat keras padanya. Di usia yang masih abg (anak baru gede), dia sudah mengenal cinta. Dan diumur yang sangat muda ini, dia sedang dihadapkan pada penyakit leukimia. Dia sudah melakukan beberapa kali kemo terapi tapi hasilnya tetap saja begitu.

Dia pernah menyerah, meski semuanya telah terjadi padanya. Karena dia mempunyai sahabat yang selalu setia menemaninya. Sahabat yang tidak pernah menyerah untuk menyemangatinya setiap waktu. Setiap saat mereka selalu bersama. Dan pacar yang selalu dia damba-dambakan dan impikan malah memperlakukannya seperti tiada artinya. Dia selalu memperoleh perkataan yang sangat tidak menyenangkan untuk didengarkan. Dia selalu diperlakukan keras oleh pacarnya, masih dia tetap bertahan sampai saat ini.

Dengan seiring berjalannya waktu dia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit. Dia harus segera dioperasi, karena penyakit yang dideritanya sangat memburuk dan menyebar ke semua tubuhnya. Ila pun segera dioperasi di saat dia berjanji tidak akan pernah meninggalkan pacar yang disayanginya demi kebahagiannya.

Namun apa daya setelah dioperasi dia lupa segalanya, lupa dengan janji yang telah diikrarkannya. Lalu si cowok menelpon, menanyakan kabarnya, lalu dia menjawab “siapa kamu, aku rasa tidak pernah mengenalmu.Si cowok merasa kesal padanya dan merasa bersalah telah melakukan itu padanya. Sehingga mereka harus berpisah. Cinta yang selama ini dia rajut dengan kekerasan harus terpisah sampai saat ini.

Suatu saat si cowok mengirimkan sebuah puisi yang berisi:
“Perpisahan Kau Dan Aku”

Bulan yang terang di malam ini
Menjadi saksi bisu kita berdua
Di mana di saat kau meninggalkanku sendiri
Meninggalkan aku dengan derai air mata
Mungkinkah kita kan terpisah selamanya?
Mungkinkah kau dan aku bisa kembali seperti dulu ?
Malam ini menjadi malam terakhir buat kita

Mungkin kita tidak menginginkan perpisahan ini, tapi keadaan yang memaksa kita untuk berpisah. Perpisahan kau dan aku, akan kukenang untuk selama-lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simponi Ospek Prodi: “Saya Bangga pada Kalian”

Oleh Yulida Indah Sriningrum, Mahasiswa FIP 2015 asal Pantura Jawa            Pagi…          Masih terasa sangat pagi bahkan mungkin bisa disebut malam. M alam yang tidak mau melepas rembulan untuk menggantikan sang surya. Aktivitas padat pada 3 - 5 September 2016 sudah menanti. Pagi itu bergegaslah saya ke kampus. Dengan melangkahkan kaki , saya mengucapkan doa , memohon kelancaran pada Sang Khalik, Yang Maha Segala-galanya.             Saya mencoba menutupi kegelisahan , kebimbangan dan kebingungan saya. Dua acara yang sama-sama penting terjadi pagi itu. Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKM-F) yang saya geluti dan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) yang saya ikuti bersamaan mengadakan acara. Manajemen waktu memang harus dipersiapkan , jika mengikuti dua organisasi yang memiliki peranan penting. Saya memilih untuk mengikuti UKM - F lebih dulu , lalu saya menyus...

Melva Berpayung Gerimis: Catatan Kemah Sastra

Oleh Amrullah, Mahasiswa FIP 2015 asal Problinggo Malam pecah. Fajar menggeliat dari balik pohon asam di pinggir pesantrenku. Kicau burung lamat-lamat bersautan, terbangun dari tidur lelap-nyenyak semalam. Rona merah bak pipi Cleopatra timbul di sudut timur utara jendela kamarku, menandai pagi menjejak langit-bumi. Mengisyaratkan upacara baru akan dilaksanakan, setelah beberapa kali agenda pertemuan terlaksana. Ya, sekarang hari pelantikan pengurus baru HMP PBSI 2016-2017. Konsep pelantikan kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Agenda dan kegiatan baru yang dilaksanakan setelah pelantikan selesai: Kemah Sastra. Nama baru dalam memori otakku. Bukan perihal keawaman tentang kemah. Toh, semenjak Tsanawiyah tubuh ini telah berkutat dengan tenda, angin malam, nyanyian penyemangat, bahkan telah kebal dengan jarum-jarum lancip kebanggaan pasukan nyamuk. Namun sastra? Kemah sastra? Pikiranku belum mampu menerawang di dalamnya. Belum mampu menelaah kegiatan yang akan dilaksanakan. S...

SAHABAT ADA UNTUK SAHABAT

O leh Mega Agustini Kaummudapergerakan . Pagi yang indah . M erah sang surya mulai menampakkan diri ke permukaan. Dingin menyeruap menusuk raga. Hingga dalam perjalanan menuju sekolah diriku merasa kedinginan. Pagi itu aku bersama Devi, kakak kelasku.             Di sekolah ‘’Marisa apakah kamu sudah mengerjakan tugas Geografi?’’ tanya sahabatku yang mungil, Amel. ‘’ S udah , ’’ jawabku. ‘’Aku boleh pinjam tugasmu, soalnya aku belum selesai mengerjakannya?’’ M intanya dengan nada centilnya padaku. ‘’ B aiklah, sesampainya di kelas nanti akan ku kasih tugasnya , ’’ jawabku dengan santai. “T erimah kasih ,” ucap sahabatku ini. Sahabtaku Amel gadis cantik, mungil dan lucu ini kerap kali lupa untuk mengerjakan tugas sekolah. Biasanya dia selalu memintaku untuk membantunya mengerjakan tugas ketika di dalam kelas. Aku dan Amel selalu bersama meski kami memiliki sifat yang berbeda. Amel lincah, periang dan...