Langsung ke konten utama

Berpihak pada Harapan

sinarharapan.co
Oleh Ki Ageng Linglung

Kaummudapergerakan. Kali pertama bertemu lelaki kurus-dekil dengan sinar mata sayu itu, saya seperti katak dalam tempurung. Saya menganggap lelaki kurus-dekil itu tak ubahnya sosok yang hanya dipenuhi debu dendam. Ya, lelaki –yang kemudian hari saya kenal sebagai Pak Pardi, aktivisi veteran tahun ‘65-an. Dari cerita-cerita singkatnya, awalnya saya menganggap Pak Pardi sebatas melampiaskan kesumatnya pada Pak Harto yang memerlakukannya tidak adil.

Saya pun yakin, Pak Pardi dan teman-temannya bergabung ke Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Surabaya tak ubahnya “penumpang-gelap” gerbong perubahan anak-anak muda pendukung revolusi mental Jokowi. Hingga beberapa minggu, mata saya tetap terkungkung oleh dinding ego untuk memerhatikan lelaku dan getar suara Pak Pardi dan teman-temannya.

Baru di pertemuan ketiga Seknas Jokowi Surabaya, suara Pak Pardi seperti gelombang yang berdebur, mengguncang batu karang. Sore itu, Sabtu, 14 Juni 2014, dengan suara bergetar dan raut yang memendam kelam masa silam Pak Pardi mengungkapkan pandangan politiknya. “Kita ini sebagai warga Negara harus melek politik. Apalagi dalam menentukan pemimpin Negara seperti sekarang. Ini menentukan nasib kita ke depan. Politik itu harus berpihak. Dan kami memilih untuk berpihak kepada yang bisa memberi harapan. Meski harapan itu kecil. Itu lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa.”

Kata-kata Pak Pardi tak hanya menohok keegoanku sebagai anak muda. Kata-katanya seperti gemuruh yang terus menggema dari langit. Sejak sore itu, pada pertemuan-pertemuan Seknas Jokowi Surabaya berikutnya, saya pun memberikan ruang perhatian buat Pak Pardi dan teman-temannya.

Diam-diam, saya juga harus angkat topi buat Pak Pardi dan teman-temannya. Pak Pardi yang sudah berkapala 6 itu, ternyata mengucapkan kata-katanya selaras dengan tingkah lakunya. Pak Pardi, setiap pertemuan Seknas Jokowi Surabaya menunjukkan komitmen dan integritas dukungan yang kukuh. Pak Pardi dan teman-temannya memiliki pandangan dan masukan yang konsisten. Integritas Pak Pardi dalam “berkomunitas” minimal ditunjukkan dengan jam “on time-nya” pada setiap pertemuan.

Saban pertemuan Pak Pardi mengungkapkan pandangan dan sikap politik yang elegan. Pandangan dan sikap politik Pardi tidak hanya dipengaruhi lika-liku tahun ’65-an. Akan tetapi juga dipengaruhi oleh wawasan kebangsaan yang matang.

Pak Pardi berulang bercerita, kalau selama ini dia banyak berhadapan dengan orang-orang yang memandangya sebelah mata. Bahkan dukungannya terhadap Jokowi masih dipertanyakan oleh banyak kalangan. “Seolah-olah saya dan teman-teman harus memikul segala stigma ‘miring’ yang “distempelkan” pemerintah Orba sepanjang hidup ini. Apalagi ketika kami, aktivis ’65 banyak dikaitkan dengan isu PKI,” keluh Pak Pardi suatu hari.

Ujian berat lain yang pernah dirasakan Pak Pardi ketika mendukung salah caleg dari partai PDI Perjuangan pada pileg 2014 lalu. Pak Pardi mendukung caleg tersebut dengan alasan, pertama caleg tersebut caleg muda. Pak Pardi yakin caleg (politisi) muda tidak memiliki beban masa lalu yang dapat membelit dan menyandera idealismenya. Kedua, PDI Perjuangan yang “berencana” mencalonkan Joko Widodo sebagai calon presiden diyakini dapat menumbuhkan harapan baru. Akan tetapi caleg muda PDI Perjuangan itu tak mengindahkan dukungan Pak Pardi dan teman-temannya. Malah caleg muda tersebut menganggap dukungan Pak Pardi hanya sebatas demi segepok uang. 

Pengalaman pahit ternyata tak membuat Pak Pardi dan teman-temannya goyah untuk berpihak pada harapan. Para veteran aktivis ini begitu gigih dalam menyosialisasikan program dan alat peraga Jokowi. Mereka tetap berharap pada sosok Jokowi yang berasal dari rakyat jelata dapat mengelola Negeri “zamrud khatulistiwa” ini dengan paradigm baru. Kalau selama ini Negara dikelola dengan konsep stabilitas ekonomi dan aparat keamanan yang kuat, Jokowi diharapkan mengelolanya dengan paradigma kesejahteraan. “Segala persoalan yang dihadapi Negara tidak bisa diselesaikan dengan cara memperketat dan memperkuat keamanan. Akan tetapi tingkat kesejahteraan yang akan menjadi kunci perubahan,” uraian Pak Pardi yang selalu diulangnya dalam beberapa pertemuan.

Dalam setiap pertemuan, Pak Pardi dan teman-temannya selalu menekankan, bahwa sikap untuk berpihak pada hadirnya harapan sudah merupakan keniscayaan bagi mereka yang mendambakan perubahan ke arah yang lebih baik. Bahkan demi harapan itu, Pak Pardi dan teman-temannya tak mempersalahkan ketika rencana deklarasi dukungan eks-aktivis ’65 yang digagasnya tak mendapatkan respon baik karena terganjal isu ‘Jokowi ditumpangi PKI lewat aktivis ‘65’. “Itu bukan masalah serius bagi kami. Demi mimpi kami untuk melihat Indonesia yang lebih baik, kami siap berjuang memenangkan Jokowi. Walau di balik layar atau di bawah tanah,” tutur Pak Pardi dengan senyum renyah ketika mengenangkan lika-liku perjuangannya mendukung Jokowi.

Satu hal yang perlu saya catat dan camkan dari sikap dan pandangan politik Pak Pardi: jiwa yang dibentuk oleh wawasan sejarah, mimpi bersama dan idealism tak akan goyah karena angin lalu. Jiwa itu dapat saya lihat ketika Pak Pardi dan teman-temannya bergabung dengan relawan Seknas Jokowi Surabaya karena dua hal. Pertama, Seknas Jokowi Surabaya “dikomandani” oleh para aktivis muda semisal Dandik Katjasungkana, Diana AV Sasa, dan lainnya. Kedua, Seknas Jokowi Surabaya menerima dirinya dan teman-temannya dengan fair. Artinya di Seknas Jokowi Surabaya Pak Pardi menemukan ruang dan semangat untuk bersikap pada harapan.

Di akhir catatan ini, Pak Pardi mungkin bukanlah orang hebat. Akan tetapi integritas dan konsistennya memberikan dukungan kepada Jokowi-JK dapat menjadi teladan untuk mengambil sikap politik: demi harapan yang lebih baik!

Komentar