Langsung ke konten utama

Postingan

Cuu

O leh Ria Puspita Rani Masa-lalu selalu membawa kita kepada cerita indah nan lucu tak terlupakan. Sejuta kenangan terpatri dalam khayalan-khayalan, memaksa kita mengulas kembali masa-masa yang dirajut dengan penuh suka cita. Tak banyak makna yang bisa dirangkai, tetapi kilas balik masa kanak-kanak selalu meminta saya untuk mengurainya kembali. Kilas balik meminta saya untuk mengingatkan yang hampir hilang setiap kali menyaksikan anak-anak kecil yang berlarian di depan saya. Dalam canda mereka, saya menemukan canda tawa yang selalu di iringi dengan goresan-goresan kisah masalalu. Masa di mana saya memainkan masa kanak-kanak saya. Menghiasi hari-hari dengan adegan penuh tawa. Kilas balik masa kanak-kanak itu saya temukan pada suatu malam dengan purnama sumringah. Saya temukan setelah duapuluh tahun usiaku kuhabiskan bersama kegiatan-kegiatanku yang memaksaku jungkir balik. Cahaya purnama terang, bintang-gemintang yang mengiringinya mengingatkanku pada teman-teman ketika kami b...

Kesendirian

O leh Nadya Devi Sendiri, sebuah kata yang bodoh dan menyedihkan. Benarkah ada seseorang yang merasa sendiri dalam hidupnya? Apa belum cukup dengan populasi manusia yang semakin mempersempit dunia ini? Bukankah setiap langkah kita selalu beriringan dengan langkah orang lain? Bukankah setiap orang akan selalu berjumpa dengan orang lain walaupun hanya untuk bertegur sapa? Lalu mengapa sebagian besar orang masih merasa terusik dengan kesendiriannya. Mungkinkah dia menciptakan kesendirian itu atas kehendaknya? Ataukah dia juga tak pernah mengerti bagaimana dia hendak melepas kesendiriannya dan merasakan indahnya sebuah kebersamaan. Sendiri bukan sekadar seorang diri tanpa  orang lain. Di keramaian pun kesendirian juga masih terasakan. Apa yang menyebabkan keadaan tersebut terjadi? Ada suara yang tak didengar, ada raga yang tak dianggap, hingga tak ada mata yang memandang. Ada orang namun ditiadakan keberadaannya. mungkinkah hal itu yang menyebabkan seseorang merasa sen...

Tak Ada Pembunuh Palomino di Indonesia

O leh Set Wahedi Amerika Latin, mula-mula saya kenal saya lewat para “idola” heroiknya: Fidel Castro, Che Guevara, Hugo Chaves, Evo Morales dan lainnya. Dari para idola ini, saya mendapati banyak cerita tentang kegigihan anak negeri berbuat dan berbakti pada negara-bangsa dan kemanusiaan. Kemudian, saya semakin familiar dengan Amerika Latin bersama para pemain sepak bolanya: Maradona, Pele, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Suarez, Messi, dan lainnya. Merekalah pemain yang meruntuhkan segala keangkuhan dunia Barat dengan seni gocekan si kulit bundar. Kemegahan panggung sepak bola Eropa, tanpa mereka seakan tanpa asam-garam.   Tidak berhenti di situ. Berikutnya, para pengarang Amerika Latin memberikan referensi cerita yang energik. Sebut saja Octavio Paz, Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marques, Mario Vargas Llosa dan lainnya. Pada umumnya, para pengarang Amerika Latin ini memiliki suara “sengak” dan sikap tegas dalam dinamika politik negerinya. Mereka sadar betul akan kekuatan k...

Kepala yang Hilang: Catatan Htanzil

Membaca kesembilan cerpen Set Wahedi, penulis muda kelahiran Sumenep, Madura ini memberikan keasyikan sendiri. Selain menghibur, beberapa di antaranya menghadirkan realita-realita sosial berupa ketidakadilan yang sepertinya sudah menjadi bagian kehidupan kita di negeri setengah makmur dan setengah demokrasi ini. Cerpen yang secara kuat mengangkat realita sosial yang terjadi di negeri ini antara lain terdapat pada cerpen   Kepala yang Terpenggal   yang dijadikan judul buku antologi ini.   Kepala yang Hilang   mengisahkan seorang lelaki yang mencari kepala ayahnya yang hilang karena bersikap kritis terhadap pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai). Cerpen ini menarik selain karena judulnya yang membuat penasaran kita juga seolah diajak menyusuri hilangnya kepala sang ayah. Namun cerpen ini juga sedikit  membingungkan karena realita dan khayalan bercampur menjadi satu. Pembaca yang kritis tentunya akan bertanya-tanya apakah ini cerpen realis atau surealis. ...

Doa untuk Nenek

O leh Mafruratul Hasanah Kaummudapergerakan.com 19 Maret 2015. Kamis sore. Tibalah aku di pamekasan dari tempat perantauanku. Kedatanganku disambut penuh keceriaan oleh semua ponakanku, yang kusebut para kurcaci. Seperti biasa kutemui nenek tersayangku yang terbaring ditempat tidur dari lima tahun lalu. Kucium tangannya sambil mengucapkan salam. Beliau hanya tersenyum melihat kedatanganku. Tak biasanya nenekku seperti itu. Kuajak berbincang-bincang, ternyata aku baru sadar nenekku tuli dan tak mengenaliku. Kukeraskan suaraku. Kujelaskan siapa diriku dengan menetaskan air mata. Aku tak tega melihatnya. Setelah kukeraskan, dia menyapaku dengan berkata, "Sampeyan pasèra?" Serasa asing kalimat itu bagiku. Tak biasanya beliau menggunakan bahasa halus padaku. Aku menjawab sambil tersenyum. Menjawab semua yang beliau tanyakan. Beliau terus menggunakan bahasa halus padaku seperti kami baru kenal. Tapi beliau paham siapa saya. Beliau sempat menanyakan uang jatah bul...

Cerita Melly (bagian I)

O leh Rose Kaummudapergerakan.com Masih terkenang di benakku , di saat nyanyian angsa putih mengisi renungan , bersama tebalnya kabut putih yang menatap betapa terpuruknya aku saat ini . Keadaanku masih seperti 3 tahun yang lalu . Saat suara rumah menangis sedih dengan keadaan y ang masih tetap . T anpa ada perubahan sedikitpun . B ahkan semakin bertambah parah dari tahun ke tahun. “ M elly , “ Suara Ibu serak. “B isa bantu ibu , N ak?” Nada rendahnya m embangunkanku dari renungan . Aku segera bergegas menuju suara ibu. “ M asih pukul tiga dini hari , ” bisikku dengan mata mengantuk . “I ni ambil dan cepat mandi!” Suara Ibu sedikit tegas. S egera ku raih handuk yang lusuh dan melangkah menjauh dari ibu. Di depan halaman , di bawah pohon yang daun nya tampak mengg ug urkan diri kar e na lelah , tampak ibu sedang menunggu dengan bakul jualannya yang hendak dibawa ke pasar. “ Mel, bisa lebih cepat, Nak?” Suara lembutnya menapak telingaku. “Iya, Bu,” jawabku den...

Bhâbhâd Songennep Bâgiân VI

kaummudapergerakan . blogspot. com _ Kaoca’ sè aghâbây labâng gâliḍighân bessè lebbi sataon, anangèng ghi’ ta’ marè. Ḍhi-panḍhi sè bânnya’ paḍâ gerring, bâḍâ matè kapanasan. Saellana labâng sè èkaghâbay rèya la karè pèjerranna, sabânnya’na panḍhi taḍâ’ tao mèjerri, locot bhâi. Amarghâ jârèya Soltan benḍu ka Patè Gajamada. Nyè Empo ngèding berta, lamon Empo Kelleng sakè’, lajhu ngoca’ ka Gus Tole, oca’na: “Gus, dhika èntar nyosol eppa’na. Empo Kelleng ka Majapaèt, kabârrâ gerring kongsè bâdânna kakorosen. Dhika nyosol sambi nolongè lalakonna eppa’na.” Saellana jârèya Agus Tole pas ajhâlân kadhibi’ân kalabân sossa atèna, sabâb abâ’na ta’ tao ka jhâlânna Madjapaèt, kobâtèr tako’ èlang otabâ tabâbâs ka alas, lajhu èkakan macan. Ta’ abit sè ajhâlân la napa’a ka tengnga alas, lajhu tatemmo bi’ orèng lalakè’ robâna cè’ bhâgussâ, atapa è konco’na gâlâgâs, iyâ arèya Adirasa. Agus Tole lajhu èkobâ’i, dhuli nyander. Adirasa atanya: “Bâ’na èntara ḍâ’ emma, ma’ ajhâlân kadhibi’â...