Oleh
Joko Linglung*
“Tolong, tolong, tolong,” lelaki itu
melolong dengan tangan terikat pada sebuah tiang. Di sebuah gudang tua,
lelaki itu mengalami penyiksaan. Sesekali suaranya parau,
memperdengarkan rasa sakit yang menikam. Tapi hanya sepi, barang
rongsokan dan dingin yang menyesap suaranya. Baru setelah beberapa menit,
lelaki bertopeng (Vandetta), dengan
langkah berat, dari arah samping gudang menghampirinya. Lalu lelaki bertopeng
itu mengeram. Di balik topengnya, kedua matanya menyala,
memendam
kesumat.
Lalu, keduanya terlibat
percakapan. Dalam percakapannya, keduanya tampak berseteru. Si Bongky, yang
mengalami penyiksaan, ternyata orang yang didakwa membunuh Rudi. Bongky
membunuh Rudi dengan bully. "Anakku mati karena kau bully," ratap lelaki
bertopeng, yang ternyata ayah si Rudi.
Adegan itu
merupakan pembuka drama pembalasan dendam seorang ayah
(Rudi)
pada Bongky dalam pertunjukan "Bully" yang dipentaskan Teater Pager
Gresik, pada 7 Mei 2016 dalam rangka ulang tahun ke-13 UKM F Teater Desah.
Sekilas, drama “Bully” hendak menyuguhkan satu kegelisahan tentang bully.
Bully, seperti ramai
dibicarakan dan dilakukan orang dalam berbagai kesempatan dan media, sejatinya
bukan hal yang baru bagi saya. Semasa kecil, saya dan teman-teman sepermainan
begitu akrab untuk melancarkan bully: Anu pacarnya Anu. Rambutnya Anu kayak petinju.
Dan jenis bully lainnya. Tidak jarang, saya dan teman-teman
yang menjadi objek bully menangis.
Tapi "bully"
yang dipentaskan Teater Pager di gudang tua depan Gedung Student Center (GSC)
Universitas Trunojoyo Madura menyisakan beberapa catatan. Pertama, topeng
Vandetta. Vandetta, tokoh sentral dalam film “V for Vandetta”,
merupakan sosok yang menginspirasi pemberontakan terhadap tatanan kota (dan
kekuasaannya). Sosok Vandetta, dengan kemampuan dan permainan
"misterinya" begitu mengejutkan para penguasa kota. Singkatnya,
Vandetta melakukan teror terhadap para penguasa dan memprovokasi masyarakat
untuk memberontak. Pilihan topeng Vandetta dalam "Bully" menjadi satu
tanda tanya besar. Pertanyaan itu mengacu dan berkait pada "konsep"
yang menjadi "ikon" pemberontakan. Benarkah kota, tempat Bongky dan
teman-temannya hidup, telah menjadi arena teror bully? Benarkah para
pembesar kota Bongky adalah para despot yang membangun istananya dengan menebar
bully? Kalau jawaban pertanyaan-pertanyaan itu benar, alangkah ngerinya kota
Bongky. Tapi kalau Vandetta hanya digunakan untuk menghabisi Bongky, alangkah
cerobohnya sastra dalam menafsir dan mengangkat realitas ke
atas panggung.
Pertanyaan lain, seberapa
jauh topeng Vandetta memunculkan kesan sadis misteri dalam membuka permainan
misteri? Memang benar, Bongky dan ayah Rudi bermain misteri. Bongky, pada
awalnya, mengira lelaki yang bertopeng Vandetta, adalah Rudi. Pada kenyataannya,
saat topeng Vandetta-nya dibuka, lelaki itu ayah si Rudi. Permainan
misteri, dalam film-film detektif- selalu menjadi titik tolak drama dimainkan.
Penonton akan dikejutkan dan "diteror" oleh ketakterdugaan demi
ketakterdugaan yang menguras emosi, sampai akhirnya misteri dipecahkan oleh
terbukanya topeng Vandetta. Sayangnya, permainan misteri itu tidak menemukan
puncak klimaks. Bahkan percakapan Bongky dan ayah Rudi berjalan datar. Bongky,
berulang kali lepas untuk memperdengarkan ratapan, keterkejutan dan sanggahan
pada adegan-adegan bully yang dipaparkan oleh ayan Rudi.
Kegagalan Bongky dan ayah
Rudi memainkan misteri menghasilkan satu adegan tanpa emosi. Misteri yang
seharusnya menjadi kunci memainkan dan meneror hasrat penonton berjalan di
tempat. Rasa ingin tahu penonton hanya sebatas pada wajah di balik topeng.
Bukan pada motif misteri itu dimainkan. Pada titik inilah, tangga dramatik
hanya berderai dan berlangsung untuk sekadar adegan. Ayah Rudi yang ingin
menuntaskan dendam kematian anaknya seolah sekadar memenuhi alur cerita. Sekali
lagi tak ada emosi atau sense tokoh
ayah pada persoalan bully yang membuat anaknya bunuh diri.
Catatan kedua, flashback. Motif atau alasan utama ayah
Rudi melakukan pembalasan dendam, dapat ditelusur pada percakapan flaschback tentang perlakuan bully
Bongky pada Rudi. Sebagai satu teknik bercerita, flashback idealnya menyuguhkan ingatan-ingatan atau kilasan-kilasan
masalalu untuk mengutuhkan cerita. Artinya, flashback
bukan sekadar menengok atau menarik masalalu ke masakini. Flashback adalah upaya pencerita
untuk mengutuhkan ceritanya. Sayangnya, sekali lagi sayangnya, narasi flashback dalam
"Bully" tidak mampu menghadirkan pembayangan adegan yang menyebabkan
Rudi bunuh diri. Satu perlakuan bully yang benar-benar membuat Rudi shock dan bunuh diri. Tokoh Ayah Rudi
-meski berulang mengungkit kelakukan bully Bongky- tidak mampu mengutuhkan
masalalu itu. Bully yang menjadi alasan utama pembalasan dendam hanya berkisar
pada bully. Hanya kata “bully”. Tanpa ditunjukkan bentuk bully-nya. Bully yang
merupakan teror psikologis hanya diterjemahkan sebagai arena bermain kata. Ayah
Rudi dan Bongky benar-benar tidak punya emosi untuk muak, sedih, menyesal atau
meradang atas peristiwa di masalalu.
Kegagalan menggarap flashback berimplikasi pada lepasnya
tangga dramatik emosi yang menjadi titik tumpu pembalasan dendam. Adegan tokoh
ayah Rudi dalam penyiksaan Bongky sebatas menyelesaikan tuntutan naskah. Tak
ada upaya memasuki naskah lebih dalam. Kata-kata hanya sebatas suara. Dengan demikian,
“Bully” kehilangan
intensitasnya untuk mem-bully penonton.
Catatan ketiga, teror.
Gudang tua, lelaki terikat, lelaki bertopeng dan sebuah alat pemukul menyeret
ingatan kita pada film-film dengan suasana teror. Sekilas, berbagai sekuel
realitas gudang tua itu membuat bulu kuduk berdiri. Penyiksaan, kekejaman, permainan
rasa sakit dan satu alur jerit yang mencekam, silih ganti menyergap alam bawah
sadar penonton. Akan tetapi, teror yang ditunggu-tunggu tidak menemukan daya
ledak. Ayah Rudi yang ditampilkan dengan raut misteri, kata-kata berteka-teki
tidak mampu menyuguhkan adegan yang memukau. Dendam yang ditegaskan dengan
kalimat-kalimat penuh emosi seorang ayah tidak serta merta membuatnya menjadi
sosok yang dingin mematikan. Topeng Vandetta yang penuh misteri dan ancaman tak
mampu dihayatinya. Topeng hanya penutup wajah. Berbagai elemen teror yang
disiapkan dibiarkan tanpa ledakan. Hanya satu dua pukulan yang
menyayat. Setelah itu, semuanya dibiarkan lepas.
Drama yang tergesa. Kurang
lebih dua puluh menit drama pembunuhan dan pembakaran Bongky berlangsung.
Ancangan untuk menyuguhkan satu adegan yang menegangkan, menguras emosi,
mengoyak hati tak menemukan ritme yang pas. Bahkan, permainan bully dan
kematian Bongky diselesaikan dengan terburu-buru. Ayah Bongky benar-benar tidak
punya sense memasuki lubuk dendam. Ia
sekadar tampil misterius dan penuh ancaman. Akan tetapi ruang-ruang permainan
untuk meluapkan marah, geram dan dendam tak mampu digelutinya. Pun, Bongky tak
menemukan nafas panjang. Rasa sakit, penasaran dan kemuakannya pada sosok
misterius tak membuatnya menemukan moment menaikkan tangga dramatik dengan
meronta dan memberontak. Bongky hanya menunggu. Menunggu penyelesaian cerita
dengan penjelasan, pembunuhan dan pembakaran.
Pada
titik ini, teater
menjadi semacam panorama obsesi. Teater berjalan di atas panggung dengan beban
"wah", "aneh" dan "seolah-olah penuh permainan
dramatik", sehingga teater perlu mengangkut hal-hal yang heboh, misterius
dan yang menegangkan. Dengan kata yang lebih masygul, kalau
teater hanya diniatkan dan digarap dengan cara demikian, diam-diam kita telah
abai untuk menjadikan teater sebagai jalan katarsis, baik bagi para aktor
maupun para penonton.
Komentar
Posting Komentar