Langsung ke konten utama

Mimpi Jahe Merah

Oleh Set Wahedi

Surabaya-catatanperubahan. Ula-Fifi, di tengah panasnya Kota Surabaya dan hiruk pikuk kasus pedofilia serta kisruh rekapitulasi suara pileg, waktu luangku kuhabiskan untuk persiapan menanam jahe merah. Saya mendapatkan bibit jahe merah dari Bapak Djoko Prasektyo, pembina Serikat Tani Kota (SKT). Saya bertemu dengan beliau di kantornya, di jalan Pucang Anom Timur II/51 Surabaya Senin kemarin (5/5/2014).

Dari Pak Djoko itu, saya mendapatkan penjelasan tentang gerakan sejuta jahe merah, khasiat jahe merah dan cara budi-daya jahe merah. Oh, ya Ula-Fifi, Pak Djoko itu ternyata seorang calon legislatif DPRD Jatim dari PDI Perjuangan. Ceritanya yang cukup menarik perhatianku, Pak Djoko melakukan kampanye dengan cara mengajak masyarakat untuk budi-daya jahe merah. “Cara ini lebih mujarab dan lebih kongkret,” jelas Pak Djoko dengan raut datar.

Fifi, ketertarikanku pada budi-daya jahe merah ini timbul sejak dua bulan lalu.  Waktu itu, saya berkunjung ke Ponorogo. Di Kota Reog itulah, saya bertemu dengan orang-orang yang bergiat dalam budi-daya jahe merah. Sejak itu, saya mulai tertarik untuk melakukan budi-daya jahe merah di desaku. Saya ingin masyarakat desaku lebih produktif dan kreatif dengan melakukan budi-daya jahe merah ini.

Desaku, desa Pinggir Papas merupakan desa yang sumber penghidupannya bertumpu pada hasil pertanian garam dan melaut. Kalau musim kemarau, desaku begitu panas. Hawanya membuat kulit cepat berkeringat. Kalau musim penghujan, desaku melabuhkan diri dalam gemulai laut. Saya berharap dengan gerakan jahe merah ini, desaku memiliki pilihan lain dalam memenuhi sumber penghasilannya. Dengan budi daya jahe merah ini, saya berharap desaku sadar akan lingkungan. Sehingga kondisinya yang gersang dan panas, lambat-laun menjadi sejuk. Dengan gerakan jahe merah sumber oksigen desaku akan bertambah. Pun ladang dan peluang usaha.

***
Ula, mendengar harapan dan citacitaku akan gerakan jahe merah, Pak Djoko sedikit terkesan. Beliau memberiku 20 biji bibit jahe merah untuk menjadi percobaan. Harga satu bungkus bibit jahe merah 50.000 dengan isi 50 biji. Pak Djoko mengingatkan, bahwa dalam hal tanam-menanam, terutama jahe merah, dibutuhkan ketelatenan. Kenapa?

Ketelatenan dibutuhkan dalam budi daya-jahe karena durasi waktu yang dibutuhkan sejak masa tanam hingga masa panen sekitar 10-12 bulan.  Satu bulan pertama bibit jahe merah ditanam di tanah kompos yang dicampur sekam. Tanah kompos-sekam ini ditaruh dalam gelas-bekas-air-mineral atau plastik ukuran kecil. Selama satu bulan pertama itu, bibit jahe merah dalam gelas-kompos-sekam ditaruh di tempat teduh, yaitu tempat yang tidak kena sinar matahari langsung.  

Fifi, sebelum tanah kompos-sekam dimasukkan, gelas bekas air-mineral itu mesti dilubangi, biar ketika kita menyiram, air tidak menggenanag. Kalau air menggenang dalam gelas itu, dapat membuat bibit jahe merah membusuk. Setelah satu bulan di dalam gelas, bibit jahe merah yang sudah bertunas, kita pindah ke tempat yang lebih luas: tanah kompos-sekam dalam kantong plasti ½ kiloan. Dalam kantong plastic ½ kiloan itu, jahe merah yang sudah berdaun itu, mesti berdiam diri selama tiga bulan.

Setelah tiga bulan berdiam diri dalam plastic ½ kiloan itu, Ula, jahe merah yang sudah berbatang dan berdaun banyak, kita pindahkan ke tempat yang lebih luas: plastic seukuran 25 kilo. Di plastic 25 kilo itu, jahe merah akan berdiam diri hingga panen.

Fifi, sampai di sini dulu ya, cerita tentang jahe merah. Mungkin pada kesempatan lain saya akan menuliskann kembali perjalanan mimpi jahe merah ini. Salam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simponi Ospek Prodi: “Saya Bangga pada Kalian”

Oleh Yulida Indah Sriningrum, Mahasiswa FIP 2015 asal Pantura Jawa            Pagi…          Masih terasa sangat pagi bahkan mungkin bisa disebut malam. M alam yang tidak mau melepas rembulan untuk menggantikan sang surya. Aktivitas padat pada 3 - 5 September 2016 sudah menanti. Pagi itu bergegaslah saya ke kampus. Dengan melangkahkan kaki , saya mengucapkan doa , memohon kelancaran pada Sang Khalik, Yang Maha Segala-galanya.             Saya mencoba menutupi kegelisahan , kebimbangan dan kebingungan saya. Dua acara yang sama-sama penting terjadi pagi itu. Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKM-F) yang saya geluti dan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) yang saya ikuti bersamaan mengadakan acara. Manajemen waktu memang harus dipersiapkan , jika mengikuti dua organisasi yang memiliki peranan penting. Saya memilih untuk mengikuti UKM - F lebih dulu , lalu saya menyus...

Melva Berpayung Gerimis: Catatan Kemah Sastra

Oleh Amrullah, Mahasiswa FIP 2015 asal Problinggo Malam pecah. Fajar menggeliat dari balik pohon asam di pinggir pesantrenku. Kicau burung lamat-lamat bersautan, terbangun dari tidur lelap-nyenyak semalam. Rona merah bak pipi Cleopatra timbul di sudut timur utara jendela kamarku, menandai pagi menjejak langit-bumi. Mengisyaratkan upacara baru akan dilaksanakan, setelah beberapa kali agenda pertemuan terlaksana. Ya, sekarang hari pelantikan pengurus baru HMP PBSI 2016-2017. Konsep pelantikan kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Agenda dan kegiatan baru yang dilaksanakan setelah pelantikan selesai: Kemah Sastra. Nama baru dalam memori otakku. Bukan perihal keawaman tentang kemah. Toh, semenjak Tsanawiyah tubuh ini telah berkutat dengan tenda, angin malam, nyanyian penyemangat, bahkan telah kebal dengan jarum-jarum lancip kebanggaan pasukan nyamuk. Namun sastra? Kemah sastra? Pikiranku belum mampu menerawang di dalamnya. Belum mampu menelaah kegiatan yang akan dilaksanakan. S...

SAHABAT ADA UNTUK SAHABAT

O leh Mega Agustini Kaummudapergerakan . Pagi yang indah . M erah sang surya mulai menampakkan diri ke permukaan. Dingin menyeruap menusuk raga. Hingga dalam perjalanan menuju sekolah diriku merasa kedinginan. Pagi itu aku bersama Devi, kakak kelasku.             Di sekolah ‘’Marisa apakah kamu sudah mengerjakan tugas Geografi?’’ tanya sahabatku yang mungil, Amel. ‘’ S udah , ’’ jawabku. ‘’Aku boleh pinjam tugasmu, soalnya aku belum selesai mengerjakannya?’’ M intanya dengan nada centilnya padaku. ‘’ B aiklah, sesampainya di kelas nanti akan ku kasih tugasnya , ’’ jawabku dengan santai. “T erimah kasih ,” ucap sahabatku ini. Sahabtaku Amel gadis cantik, mungil dan lucu ini kerap kali lupa untuk mengerjakan tugas sekolah. Biasanya dia selalu memintaku untuk membantunya mengerjakan tugas ketika di dalam kelas. Aku dan Amel selalu bersama meski kami memiliki sifat yang berbeda. Amel lincah, periang dan...