Oleh Set Wahedi
Sumenep-catatanperubahan.
Khaulah, hari ini (Jumat, 2//5/2014) saya ingin memperpanjang masa berlaku
Surat Izin Mengemudi (SIM) yang akan berakhir pada tanggal 3 Mei 2014.
Mula-mula, sebelum memasuki area Kantor Pelayanan SAT LANTAS Polres Sumenep di
Jalan Panglegur, saya mesti mem-fotokopi KTP dan SIMku. Saya mem-fotokopi
keduanya tiga lembar. Saya memasukkan fotokopi keduanya ke dalam map dongker.
Saya pun beli ball-point. Itu saya lakukan merujuk pada petunjuk di depan
tempat fotokopi : rangkap empat dengan aslinya dan bawa ball-point.
Setelah itu, saya ‘digiring’
untuk menyerahkan map berisi fotokopi KTP dan SIM-ku ke ruang pemeriksaan
kesehatan. Khaulah, di depan pintu ruang pemeriksaan kesehatan itu, orang-orang
pada berdiri. Kepala mereka melongok-longok. Menunggu namanya dipanggil. Melihat
jubelan orang-orang di depan ruang pemeriksaan kesehatan itu, saya merasakan sedikit
aneh. Dari cara berpakaian dan gaya mereka berdiri dan berjalan, saya tidak
sangsi bahwa orang-orang itu orang-orang modern. Orang-orang yang sudah
mengenal hand-phone dan barang penanda modern lainnya. Tapi Khaulah,
saya belum bisa mengerti: mengapa mereka berjubel berdiri di depan pintu?
Bukankah petugas pemeriksa kesehatan akan memanggil nama mereka satu persatu
sesuai urutan? Ataukah di negara ini memang sudah tidak ada yang namanya
“kepastian”? Walau dalam hal mengantri?
Khaulah, peristiwa yang paling lucu
dan sedikit menjengkelkan di ruang pemeriksaan itu, saya hanya diminta untuk membaca
kalimat “Surat Keterangan ini diberikan untuk:” di kertas kuning. Mulanya saya
tidak percaya, bukankah ini ruang pemeriksaan kesehatan? Kok saya hanya
diminta membaca kalimat pendek itu? Hah, sekolah setinggi apa pun di negara ini
tetap diragukan sebagai warga-negara yang bisa baca-tulis, gerutuku dalam hati.
Setelah membaca kalimat pendek ini dengan nada tersendat-sendat, petugas
meminta saya untuk membayar uang sejumlah Rp. 17. 500. Saya lagi-lagi
uring-uringan Khaulah: harga tes baca di negara ini 17.500 Saudara-saudara.
Dari ruang tes kesehatan saya
menuju ke ruang pengambilan formulir. Petugas formulir dapat dikatakan orang
yang cukup ramah. Orangnya berkacamata. Pada orang yang akan memperpanjang atau
membuat SIM baru dia menawarkan jasa bantuan mengisi formulir. Tapi saya
memutuskan untuk mengisi formulir sendiri. Isian formulir biodata “pemohon”
dilengkapi dengan sidik sepuluh jari tangan.
Khaulah, setelah itu saya
diminta untuk berfoto. Saya mendapat nomor antri 55. Saya pun beranjak ke
sebuah ruang yang dijaga dua orang dan seorang fotografer. Ruang foto itu
terletak di dekat ATM BRI dan menghadap ke jalan raya. Untuk biaya berfoto ini,
saya merogoh kocek Rp. 15. 000. Saya difoto dari sisi depan, samping kiri dan
samping kanan.
Sesi foto ini hanya memakan
waktu sekitar 10 menit Khaulah. Antrian di ruang itu hanya segelintir kertas
antrian. Lalu, saya dan beberapa orang beranjak ke tahap berikutnya: menuju
loket pendaftaran. Aduh, Khaulah pada tahap ini saya ternyata harus merogoh
receh kesabaran lebih banyak: loket pendaftaran sudah tutup. Awalnya saya tidak
percaya loket itu sudah tutup. Saya menyambangi lubang loket dan mengajukan
pertanyaan “basi” ke petugas: “mbak, bayarnya berapa?” “Tujuh lima. Di Bank.”
“Loketnya sudah tutup?” “Ya, sudah tutup Mas.”
Hah, Khaulah saya pun lunglai
berlalu dari depan loket pendaftaran. Saya akan kembali besok, pikirku seraya
mengeluarkan hand-phone dari saku celana. Di sinilah, Khaulah, saya
disergap rasa tidak-percaya-akut. Jam digital di hand-phone-ku
menunjukkan angka 08:51. Bukankah ini masih pagi Khaulah? Tapi kenapa loket itu
sudah tutup? Bukankah para pemohon yang antri masih banyak? Bukankah petugas
itu masih duduk manis di belakang meja loket?
Saya sebenarnya ingin
mengonfirmasi lagi Khaulah, “kenapa loket pendaftaran tutup pada pukul sembilan
pagi?” Tapi buru-buru teman saya mengajukan usul ‘damai’: kita kembali besok.
Tapi Khaulah, ketika melaju di atas motor menuju rumah, saya baru sadar: nanti
malam saya mesti ke Surabaya?

Komentar
Posting Komentar