Oleh Februandi Roby Akbar
Parsanga-catatanperubahan. Pada abad ke–17 datanglah salah seorang cucu Wali Songo, bernama Syech Ahmad Baidawi. Dia putra dari Panembahan Pakaos. Panembahan Pakaos merupakan putra Sunan Kudus. Syech Ahmad Baidawi disebut juga Pangeran Katandor dating dari Kudus, Jawa Tengah. Dia datang ke wilayah kerajaan Sumenep dan berdomisili di daerah Bangkal.
Pada
masa itu kerajaan Sumenep mengalami kelaparan dan kekeringan. Kedatangan Syech
Ahmad Baidawi membuat kerajaan Sumenep mengalami perubahan yang sangat drastis.
Beliau memberdayakan kerajaan Sumenep dengan system bercocok tanam.
Pertama–tama yang dilakukan Syech Ahmad Baidawi dengan sistem cocok tanam, menanam padi dan jagung. Semua tanaman tumbuh dengan sangat baik dan banyak. Sehingga orang–orang di sekitar Syech Ahmad Baidawi tertarik dan bertanya tentang cara menanam yang baik dan hasilnya melimpah.
Syech
Ahmad Baidawi memberikan petunjuk bercocok tanam yang benar dengan syarat –
syarat sebagai berikut : (1) diwajibkan membaca syahadat terlebih dahulu, (2) mau
menerima nasihat Syech Ahmad Baidawi, (3) kalau menanam harus membaca basmalah,
(4) setelah tanamannya berhasil harus bersyukur kepada Sang Pencipta yaitu
Allah SWT.
Sistem
bercocok tanam Syech Ahmad Baidawi tersebut menarik perhatian banyak orang untuk
belajar dan menuntut ilmu kepada Syech Ahmad Baidawi. Sistem bercocok tanam Syech
Ahmad Baidawi dalam menanam padi dan jagung dalam bahasa Jawa di sebut “MANDUR“,
yang berarti menanam.
Akhirnya,
Syech Ahmad Baidawi dikenal dengan julukan Pangeran Katandur. yang memiliki 4 putra
yaitu, (1) K. Hotib Paddusan yang berada di desa Parsanga, (2)K. Hotib Paraggen yang berada di desa Bangkal, (3) K. Hotib Rajul berada di P.
Kangean, (4)K. Hotib Sendang yang berada di daerah Pamekasan. Meski keempat putra Syech Ahnad
Baidawi berada di tempat yang terpisah, setelah meninggal semuanya dikebumikan
di daerah Bangkal.
Putra sulung beliau yang bernama K. Hotib Paddusan meneruskan jejak ayahnya dalam menyiarkan Sunnah Rasul. Sehingga banyak orang yang datang ingin menjadi santri beliau. Salah satu persyaratan beliau untuk menjadi santrinya harus dimandikan dulu atau istilah Maduranya “Edudus“. Dia menggali sumur sebagai sarana untuk memandikan orang– orang yang ingin menjadi santrinya.
Banyak
sumur yang dibuat beliau berdasar berapa banyak santri yang berguru kepada
beliau. Beliau menggali sembilan sumur atau bahasa Jawanya di sebut “Sumur
Songo“ yang berubah nama menjadi Parsanga. Perubahan itu karena di setiap sumur
tersebut ditanami tumbuhan parse, yaitu bibit pohon kelapa. Nama Parsanga
tersebut diambil dari kata “parse” dan sembilan sumur tersebut.
Baru sekitar abad ke–18 Parsanga dipecah menjadi 3 (tiga) desa, yaitu Parsanga, Bangkal, dan Kacongan. Sampai sekarang 3 desa tersebut terus tumbuh dan berkembang dengan jumlah penduduk meningkat pesat.

Komentar
Posting Komentar