Langsung ke konten utama

Postingan

PARODI III, Hujan dan Secuil Doa

Oleh Dzurotul Muniroh, Mahasiswa PBSI 2015, asal Gresik Desisan angin pantai begitu sejuk, membuatku ingin tetap berada di tempat itu. Gubyaran ombak menatap batu karang mengalun keras. Alam terbuka begitu indah. Melepas penat sejenak, melihat suasana pantai di tepian jembatan Suramadu. Suara-suara tatapan ombak dan batu karang terus menyanyikan lagu cengkerama di telingaku. Suara kicauan burung mengirinya, membuhulkan kegembiraan. Gerimis bergemercik, menetas kecil-kecil, keharmonisan dalam sebuah kebersamaan. Itulah yang terlintas dalam kepala saya ketika harus menuliskan kenangan tentang ‘hujan’. Semua orang pasti memiliki kenangan  yang istimewa ketika hujan turun. Pada tanggal 08 sampai 09 Oktober 2016, saya beserta panitia Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP), peserta diklat Pengenalan Program Studi (PARODI) III dan beberapa dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berangkat ke Desa Kwanyar, Kabupaten Bangkalan-madura. Sebelum berangkat, kami berkumpul di Audit...

Helmi Si Gendut

Oleh Mukhayyaroh, Mahasiswa PBSI 2014, asal Gresik Pada hari pertama OSPEK PARODI (Pengenalan Program Studi) III PBSI tahun 2016, mahasiswa baru diagendakan hadir di depan gedung RKB-D pada pukul 06:00. Karena itu, panitia “diwajibkan” hadir sebelum pukul 06.00. Pukul 06:00 aku bersiap ke kampus. Pagi itu, aku menunggu balasan BBM dari Iin. Aku biasa nebeng Iin kalau ada acara-acara di HMP. “Jangan-jangan Iin masih di perjalanan,” seruku dalam hati. Pukul 06:07, Iin belum membalas. Bagaimana ia membalas, BBMnya saja masih centang? Pukul 06:08 pesan itu baru terkirim. ‘Kulihat’ dia sedang menulis pesan dan cemplung, pesan darinya masuk. “Aku jemput sekarang Yaroh.” Pukul 06:23 aku sampai di kampus. Panitia yang lain sudah pada datang. Helmi berjalan mendekati aku dan Iin. “ Kok baru datang Yaroh?” Dengan sedikit nyengir aku menjawab, “Maaf Hel, nunggu tebengan dulu.” Helmi sudah terbiasa dengan alasanku yang satu ini. Dia menanggapi dengan senyum datar. “Sudah makan Hel...

Goresan Masa Lalu

Oleh Dian Apriatin* Dalam kesunyian sore, nyanyian alam mulai terdengar. Sayup-sayup angin berhembus menggetarkan jiwa dalam kehangatan senja. Bukit-bukit di ujung pandang seketika menghilang bersama kekalutan hati dalam diam. Senja mulai menua. Seperti kita. Umur kita. Dan juga kehidupan kita. Kita menjauh dari masa lalu, berlalu meninggalkan jejak dalam harumnya kenangan manis itu. Menjelma menjadi manusia dewasa yang mencari kesejahteraan hidup sepenuhnya. Hati berbisik seolah ada sesuatu yang tertinggal, namun tetap mengikuti kita dari belakang. Aku telah mencapai titik di mana aku kembali melihat ke belakang. Menengok dan memandang kembali salah satu dari ribuan kenangan usang. Seperti burung, aku telah bebas terbang menelusuri seluruh alam. Tapi sepertinya ada beberapa kenangan yang tak bisa untuk dilupakan. Kembali ku mengenang manisnya kenangan masa lalu. Masa kecil yang mengharuskan aku bersosialisasi dengan teman sebaya setiap harinya. Masa kecil di mana hanya ada c...

Dhi’-Dhindhi’

Oleh Mutmainnah (Iin) Cobalah tanyakan pada anak-anak kecil di Madura, apa saja permainan tradisional yang mereka kenal? Jawabannya boleh jadi sangat mengejutkan , k arena amat sedikit yang mengenalnya. Padahal, Madura punya banyak permainan tradisional yang beragam. Bahkan, dalam satu jenis permainan saja, ada banyak model tata cara yang bebeda di masing-masing daerah. Memang, permainan tradisional anak-anak Madura mulai tidak banyak diminati. Di kampung saya sendiri , Desa Bator, Kec. Klampis, Bangkalan, sudah sangat jarang ditemui anak-anak bermain takjan, tek-eteghan , d an s e b againya . Mereka lebih akrab dengan stick play station (PS), dan ip h on e atau tombol ponsel. Tentu saja, fenomena ini punya dampak buruk pada generasi masa depan. Ketergantungan terhadap permainan digital membawa efek psikologis pada anak. Y ang paling mengkhawatirkan , pengebirian terhadap imajinasi mereka. Di ruang digital, imajinasi anak terpenjara . G ame yang mereka mainkan sudah te...